Rapuh

Jumat, 06 Januari 2012

Tangis tertahan diperut bumi,
memacu luapan magma kegelisahan mengalir deras,
lewati lereng-lereng kasih yang mulai mati rasa,
membakar rumah cinta dan menjadikannya abu.

Langkah pun terhenti
kala baru sepenggal perjalanan terlewati,
tak mampu lagi berdiri karena jiwa begitu lemah,
tangan-tangan keyakinan sudah tiada kuat lagi
menggenggam erat,
tali pun telah putus hingga ikatan pun lepas,
ranting kering itu kini berserakan,
semakin rapuh tersengat panas,
dan kala hujan turun dia pun ikut basah.

Aku menggigil dalam kerontang di jiwa yang lara,
aku menangis kala sumber mata air telah mengering,
aku hanya mampu basuh wajah dengan keringat ku
sendiri,
tubuh ku pun begitu lusuh dan terlihat dekil,
harapan telah jauh tinggalkan masa,
hanya sekeping hati yang masih tersisa,
berharap bersatunya kembali cahaya,
dalam jalinan suci keabadian cinta.

0 komentar:

Posting Komentar